PUBLIKREPORT.com

Keluhan Keluarga Berduka Karena Covid-19

Keterangan foto: Prosesi ibadah pelepasan jenazah alamarhumah Mintje Sumakul (72), warga Desa Ranotongkor Timur, Kecamatan Tombariri Timur, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulut yang meninggal dunia pada Minggu 07 Januari 2020, saat sementara mendapat perawatan medis di RSU Gunung Maria Tomohon.

INGIN BERITA DIBACAKAN: https://publikreport.com

TOMOHON, publikreport.com – Keluhan beragam dikemukakan beberapa yang berdukacita pascaanggota keluarga mereka meninggal dunia diduga karena Covid-19 (Coronavirus Disease-19).

“Kasian, kita pe mama cuma didoakan di tengah jalan waktu meninggal 10 hari lalu. Dikuburkan dengan protokol Covid. Tadi kita cek ulang tu hasil ternyata belum ada kata,” ungkap Lidya Rambing saat bertemu wartawan di Rumah Sakit Umum (RSU) Gunung Maria Tomohon.

“Herannya, hasil swab kami sekeluarga, hasilnya negatif. Itupun hanya keluar dalam jangka waktu tiga hari. Waktu itu kami inisiatif lakukan swab karena acara kumawus tidak boleh dilakukan kalau hasil tes negatif tidak ada,” jelas Lidya.

Diketahui, ibu Lidya, Mintje Sumakul (72), warga Desa Ranotongkor Timur, Kecamatan Tombariri Timur, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) meninggal dunia pada Minggu 07 Januari 2020, saat sementara mendapat perawatan medis di RSU Gunung Maria Tomohon.

Atas peristiwa tersebut sejumlah warga desa tersebut bertanya-tanya tentang hasil swab.

“Perlu dipertanyakan kenapa hasil swab orang yang sudah meninggal belum keluar, sementara hasil swab keluarga yang menjaganya sudah langsung keluar,” kata Opik Kandou, warga Ranotongkor.

Hal sama dirasakan Keluarga Paat-Lasut yang berdukacita karena ibu rumah tangga Lina Lasut (69) meninggal dan dimakamkan dengan protokol Covid-19.

“Mama kami sakit asma dan darah rendah. Tapi waktu meninggal almarhumah dikatakan oleh pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anugerah Tomohon meninggal karena Corona. Aneh, karena mama sudah bertahun-tahun tidak keluar-keluar dari rumah. Kami pasrah saja. Tapi tolong hasil sebenarnya cepat dikeluarkan supaya warga sekitar tidak lagi menjauhi kami,” ungkap Nixon Pongoh, warga Lingkungan 8, Kelurahan Kayawu, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon.

Nova Paat, putri alarhumah Lina Lasut, mengatakan, keluarganya merasakan tekanan yang luar biasa terutama dalam hal pergaulan dimasyarakat.

“Merasa dikucilkan. Orang-orang disekitar seperti takut pada kami. Tapi kami tidak menyalahkan mereka,” kata Nova.

Beberapa konsekwensi berat atas ‘vonis Corona’ pada sang ibu diurai Nova.

“Ibu kami setia beribadah, tapi saat meninggal tidak ada ibadah dirumah. Ibadah tiga malam cuma lewat video call. Ibadah sampetan tadi malam, juga cuma dipimpin pendeta lewat video call. Itupun nanti mulai so lat skali,” jelasnya.

Tak hanya itu, kegiatan sosial mapalus duka yang menjadi tradisi kuat di kelurahan tersebut tak bisa dilakukan.

“Disini ada kegiatan sosial duka yang diikuti oleh semua masyarakat. Bantuan beras dan ikan. Juga bantuan dana gotong royong masyarakat. Tapi ini tidak bisa dilakukan. Apalagi ini kasus pertama,” ujar Yusak Paat. | JOPPY WONGKAR

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Warga Curigai Penggunaan Dana Covid-19 di Tomohon

Read Next

Pembangunan Jalan Penghubung Desa Agotey dan Kayawu Dilanjutkan