Sampah yang mengotori laut merupakan salah satu ancaman nyata kehidupan Coelacanth. (Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia)
Sampah yang mengotori laut merupakan salah satu ancaman nyata kehidupan Coelacanth. (Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia)

KemenLHK Akui Sampah Plastik Meningkat

JAKARTA, publikreport.com – Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK), Rosa Vivien Ratnawati mengemukakan, komposisi sampah plastik menunjukan trend meningkat dalam 10 tahun terakhir ini, dari 11% di tahun 2005 menjadi 15% di tahun 2015. Sumber utama sampah plastik berasal dari kemasan makanan dan minuman, kemasan consumer goods, kantong belanja, serta pembungkus barang lainnya.

Dari total timbunan sampah plastik, yang didaur ulang diperkirakan baru 10-15% saja, 60-70% ditimbun di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), dan 15-30% belum terkelola dan terbuang ke lingkungan, terutama ke lingkungan perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut,” kata Rosa pada Forum Tematik Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) di ruang Rimbawan, Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa 28 Mei 2019.

BACA JUGA: Jurang Ini Masih Dijadikan Tempat Sampah

Sampah yang dibuang dan ditimbun di tanah, menurut Rosa, akan mengalami proses pembusukan atau dekomposisi sehingga berpotensi mencemari tanah. Yang lebih berbahaya, adalah berasal dari senyawa logam berat yang bersifat racun (toxic) dan penyebab kanker (carsinogen) seperti merkuri, timbal, dan cadmiun.

BACA JUGA: Sampah Kepung Bunaken, Siapa Bertanggung Jawab?

Sementara, sampah yang dibuang ke sungai, danau, atau laut, Rosa melanjutkan, dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan menjadi penyebab kematian binatang air yang terperangkap sampah plastik. Khusus untuk saluran dan sungai, sampah menjadi salah satu penyebab terjadinya genangan dan banjir karena tumpukan sampah menyumbat aliran air.

BACA JUGA: Sampah di Pasar Segar, Pasar Beriman Tomohon

Amanat utama pengelolaan sampah dalam Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Rosa menjelaskan, mengubah paradigma pengelolaan sampah dari kumpul-angkut-buang menjadi pengurangan di sumber (reduce at source) dan daur ulang sumber daya (resources recycle).

Leave a Reply