You are currently viewing Kemenperin Yakin Ekspor Mebel Tembus USD 2 Miliar di Tahun Ini
Juri menilai desain kursi karya finalis Kompetisi Desain Mebel Rotan di Bandung, 4 Oktober 2016. Potensi pengembangan dan perdagangan furnitur rotan untuk pasar ekspor dan dalam negeri masih sangat terbuka. (Foto: Tempo/Prima Mulia)

Kemenperin Yakin Ekspor Mebel Tembus USD 2 Miliar di Tahun Ini

EKONOMI & BISNIS

SOLO, publikreport.com – Kementerian Perindustrian optimistis target ekspor mebel sebesar US$2 miliar tahun ini bisa tercapai mengingat permintaan terhadap produk itu cukup tinggi.

Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Gati Wibawaningsih mengatakan pemerintah akan habis-habisan untuk membantu industri kecil, termasuk mebel untuk mampu bersaing di pasar dunia.

Ekspor mebel pada tahun 2015 mencapai US$1,21 milliar, tetapi pada tahun berikutnya mengalami penurunan menjadi US$1,04 milliar USD. Penurunan tersebut dikarenakan permintaan pasar global yang menurun.

Tahun ini, katanya, ekspor mebel ditargetkan mencapai US$2 miliar dan tahun berikutnya naik lagi menjadi US$2,5 miliar.

“Makanya usaha kecil dan menengah ini akan kami support habis-habisan. Peluang cukup besar bagi mebel untuk menjadi pemimpin pasar global,” katanya di sela-sela Launching Omah Mebel dan Kerajinan dengan tema Kimkas (Kerajinan Koperasi Industri Mebel dan Kerajinan Solo Raya) Sebagai Gerbang Memenangkan Persaingan Global, Senin 20 November 2017.

Berdasarkan data yang ada di Kementerian Perindustrian, katanya, pada tahun 2015 terdapat 139.544 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja 436.764 orang dengan nilai investasi Rp5,8 triliun.

Indonesia saat ini menempati posisi kelima dalam ekspor mebel dan kerajinan dan masih tertinggal dari Vietnam, Malaysia dan Singapura. Hal ini terjadi karena permasalahan yaitu ketersediaan pasokan bahan baku, overlappingregulasi, jumlah craftmen yang semakin berkurang, dan juga promosi produk.

Pemerintah, katanya tengah membuat langkah strategis untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Terkaitbahan baku, katanya, pihak Perhutani siap membantu untuk mempermudah mendapatkan bahan baku, khususnya terkait Sistem Verifikasi dan legalitas kayu (SVLK).

“Jadi nanti kalau suda lewat Perhutani, tidak perlu lagi ada sertifikat SVLK. Perhutani juga siap membantu produsen untuk mempermudah SVLK,” katanya.

Leave a Reply