PUBLIKREPORT.com

Kenapa Anoa Dijuluki Kerbau Kerdil?

Keterangan foto: Anoa dataran rendah. (Foto: Dok. Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone/mongabay.co.id).

INGIN BERITA DIBACAKAN: https://publikreport.com

Anoa merupakan satwa endemik Sulawesi. Julukannya unik, kerap disebut sapi atau kerbau kerdil sulawesi. Ada dua spesies anoa yang kita ketahui bersama, yaitu anoa dataran rendah [Bubalus depressicornis] dan anoa gunung [Bubalus quarlesi].

Anoa merupakan salah satu fauna khas Sulawesi yang kehidupannya tak luput dari ancaman. Mulai dari habitatnya yang terganggu akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pertambangan, atau pemukiman, hingga perburuan ilegal yang masih terjadi.

Status konservasi anoa dataran rendah dan anoa gunung, berdasarkan badan konservasi dunia IUCN [International Union for the Conservation of Nature] adalah Genting [Endangered/EN]. Di dalam negeri, berdasarkan Permen LHK Nomor P.106/2018, keberadaannya berstatus sebagai satwa dilindungi.

Kenapa dijuluki kerbau kerdil?

Bentuk anoa yang menyerupai kerbau membuatnya sering disebut sebagai kerbau kerdil. IUCN [2013] menjelaskan, bahwa saat ini terdapat lima jenis spesies kerbau yang masih hidup. Pertama; kerbau air asia [Bubalus arnee] yang tersebar di India, Bhutan, Nepal, Kamboja, dan Thailand. Kedua; tamaraw [Bubalus mindorensis] yang merupakan endemik Pulau Mindoro Filipina. Ketiga; anoa dataran rendah [Bubalus depressicornis) endemik Sulawesi. Keempat; anoa gunung [Bubalus quarlesi] endemik Sulawesi. Kelima; kerbau afrika [Syncerus caffer] terdapat di Afrika.

Dalam buku berjudul “Ekologi, Prilaku, dan Konservasi Anoa” [Desember, 2019], yang ditulis oleh Abdul Haris Mustari, peneliti dan pengajar pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB, dijelaskan mengenai asal usul leluhur anoa. Buku ini disebut sebagai buku pertama yang membahas anoa secara komprehensif.

Menurut Haris, berat badan anoa dataran rendah berkisar 80–100 kg bahkan ada yang mencapai 120 kg. Tetapi ini jarang ditemui. Sementara anoa gunung sekitar 60–80 kg. Kerbau air asia, serta dua sub spesies turunannya; kerbau rawa dan kerbau sungai memiliki berat badan 800–1.000 kg. Kerbau afrika bobot badannya berkisar 500–1.000 kg.

“Berdasarkan berat badan beberapa jenis kerbau diketahui bahwa anoa adalah jenis kerbau terkecil di dunia. Karena ukurannya kecil untuk kategori kerbau, maka anoa disebut juga kerbau kerdil atau kerbau cebol [dwarf buffalo],” ungkap Haris Mustari dalam bukunya.

Pada beberapa literatur disebutkan bahwa berat badan anoa dataran rendah berkisar 150–300 kg. Akan tetapi, dari seluruh individu anoa yang telah ditimbang berat badannya, tidak satu pun yang mencapai 150 kg. Hal yang mengindikasikan bahwa berat badan anoa yang tercatat dalam beberapa literatur sebelumnya kemungkinan terlalu tinggi.

Haris mengatakan, ukuran tubuh anoa yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis kerbau lainnya, baik genus Bubalus maupun genus Sincerus dan dengan leluhurnya yang berasal dari daratan Asia Selatan, kemungkinan mengikuti teori Island Rule/Foster Rule atau biasa disebut Island Syndrome. Keterbatasan sumber daya dan ketidakhadiran predator besar menyebabkan terjadinya pengerdilan ukuran tubuh satwa besar yang hidup pada ekosistem pulau.

Merujuk pada beberapa literatur dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa Island Rule/Foster Rule adalah perubahan ukuran tubuh yang terjadi karena perpindahan spesies dari daratan ke pulau.

Perubahan morfologinya dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian. Pertama, satwa yang ukuran tubuhnya besar akan berevolusi menuju ukuran lebih kecil. Kedua, satwa ukuran menengah, tidak ada gejala khas dalam perubahan ukuran tubuh. Ketiga, satwa ukuran kecil, berevolusi menuju ukuran yang lebih besar.

Dijelaskan bahwa salah satu mekanisme yang bekerja pada satwa berukuran besar dan kecil adalah terkait wilayah jelajah. Pada pulau berukuran kecil, wilayah jelajah satwa berukuran besar akan terbatas, tetapi tidak bagi satwa ukuran kecil. Pada wilayah jelajah lebih kecil, persediaan dan kelimpahan sumber daya terutama makanan, air, dan tempat berlindung terbatas.

Salah satu implikasinya adalah satwa berukuran besar berevolusi menjadi lebih kecil di pulau. Sementara satwa ukuran kecil ketika bermigrasi ke pulau dapat meningkatkan akses ke sumber daya apabila tubuhnya menjadi lebih besar serta tidak ada atau kurangnya kompetisi.

Selain itu, satwa berukuran kecil akan mengalami proses yang disebut “ecological release” atau lepasnya suatu spesies dari tekanan ekologi karena tidak terdapat atau berkurangnya predator, sehingga tubuhnya menjadi lebih besar. Perubahan ukuran tubuh suatu spesies berjalan seiring dengan rangkaian evolusinya.

Haris menjelaskan mengenai leluhur anoa yang berasal dari wilayah Asia Selatan, bermigrasi ke wilayah timur hingga akhirnya mencapai daratan Sulawesi pada era Pliosen-Pleistosen. Dibandingkan dengan daratan utama Asia, Sulawesi adalah pulau yang kecil ukurannya. Apalagi ketika leluhur anoa bermigrasi, bentuk dan ukuran Pulau Sulawesi belum seperti yang terlihat sekarang.

“Pada saat itu, daratan yang ada atau yang muncul di atas permukaan laut baru terdapat di bagian tengah Sulawesi. Karena itu, dalam perjalanan evolusinya, ukuran tubuh anoa menjadi lebih kecil dibandingkan dengan ukuran tubuh leluhurnya. Salah satunya, karena terbatasnya sumber daya.”

“Tambahan lagi, tidak terdapat predator besar di Sulawesi seperti harimau [Panthera tigris] dan macan tutul [Panthera pardus]. Hal yang sama terjadi pada tamaraw yang endemik Pulau Mindoro, Filipina. Meskipun kedua jenis kerbau ini, anoa dan tamaraw, memiliki rute migrasi berbeda, leluhur anoa mencapai Sulawesi dan leluhur tamaraw mencapai Pulau Mindoro,” papar Haris dalam bukunya.

Selain berat tubuh yang paling kecil di antara jenis-jenis kerbau, anoa adalah paling soliter yang mendiami habitat paling rapat tutupan vegetasinya, dengan struktur bentang alam yang kompleks. Variasi habitat ini membentang mulai dari ekosistem hutan mangrove, hutan pantai, hutan dataran rendah sampai ekosistem hutan pegunungan bawah dan pegunungan atas.

Sementara kerbau air asia umumnya mendiami habitat yang relatif terbuka pada ekosistem savana dan rawa. Demikian juga kerbau afrika, habitatnya adalah padang rumput dan savana, kecuali untuk subspesies S.c. nanus, habitatnya adalah hutan. Meskipun, vegetasinya tidak serapat hutan tropis serta bentang alamnya tidak sekompleks habitat anoa di Sulawesi. | MONGABAY.co.id

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Polda Sulut Ketambahan 4 Unit Kapal Patroli

Read Next

Edwin Silangen, Birokrat Handal Kelahiran Sitaro