Ketua Umum MUI: Darurat dan Berbahaya, Vaksin MR Wajib
KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua Umum MUI: Darurat dan Berbahaya, Vaksin MR Wajib

JAKARTA, publikreport.com – Ketika membicarakan persoalan vaksin Measles Rubella (MR), ada dua hal penting dari sisi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pertama, hukum imunisasi. Kedua, kehalalan dari vaksin itu sendiri.

Penjelasan tersebut disampaikan Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) KH (Kyai Haji) Ma’ruf Amin dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB’9) dengan tema “Jalan Panjang Fatwa MUI Vaksin MR” di Ruang Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Selasa, 18 September 2018.

“Terkait masalah vaksin, MUI sudah mengeluarkan fatwa pada 2016. Fatwa Nomor 4 Tahun 2016 sudah diputuskan bahwa melakukan imunisasi atas penyakit yang mengancam, menimbulkan penyakit, kecacatan yang berkelanjutan, maka bukan hanya boleh (digunakan), bahkan wajib,” ungkap Ma’ruf, sebagaimana siaran pers Kantor Sekretariat Presiden yang diterima publikreport.com, Selasa, 18 September 2018.

Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Ma’ruf mengatakan, Rubella ini sangat berbahaya. Kalau bahaya itu diyakini, kalau bahasa ulama, artinya memang bahaya, merupakan kewajiban.

BACA JUGA: Penggunaan Vaksin MR Dianggap Telah Penuhi Prasyarat Keadaan Darurat

Tadi, Ma’ruf melanjutkan, sudah disebutkan dan ditunjukan langsung contohnya. Ini sangat bahaya.

“Kalau generasi muda Indonesia akan seperti itu, kita akan menjadi bangsa yang lemah. Akan kalah berkompetisi dengan bangsa yang lain,” jelasnya.

BACA JUGA: Darurat Imunisasi MR dalam Perspektif Fikih

Sayangnya, menurut Ma’ruf, Kementerian Kesehatan tidak meminta fatwa langsung tentang vaksinnya. Baru prosesnya dilakukan pada tahun 2018. Yakni, lahir Fatwa MUI Nomor 33 tentang Penggunaan Vaksin Rubella.

“Selama dua tahun itu, 2016-2018, tidak ada fatwa tentang kehalalan. Apakah vaksinya itu halal atau tidak. Baru tahun 2018 kita keluarkan kehalalannya. Karena darurat, belum ada penggantinya. Hukumnya, ada kebolehan sesuatu yang dilarang. Yang dilarang, jika darurat, diperbolehkan,” tuturnya.

BACA JUGA: Sempat Dipolemikkan, Dinkes Minut Targetkan 48.607 Vaksin MR

Karena itu, Ma’ruf Amin menekankan, pihaknya sangat prihatin terhadap capaian imunisasi vaksin MR ini yang hinga saat ini baru mencapai 48 persen.

BACA JUGA: Hati-hati, Katarak Juga Bisa Menyerang Anak-anak

“Harus ada upaya-upaya maksimal melibatkan semua pihak. Kami, MUI sudah mengeluarkan dua fatwa dan kami siap mensukseskan vaksinasi Rubella ini,” tegasnya. | DORANG

Tinggalkan Balasan