Ilustrasi kain tenun. (Christina Andhika Setyanti)
Ilustrasi kain tenun. (Christina Andhika Setyanti)

Kisah (Punah) Tenun Gorontalo

Di Tengah Riuh Rendah Dunia Mode

Bak mutiara tersembunyi, eksistensi cantiknya tenun Gorontalo ‘terkubur’ dalam gegap gempita industri mode. Bahkan, hanya sedikit masyarakat Gorontalo yang tahu dan ingat bahwa daerahnya pernah memiliki tenun khas yang kini nyaris punah.

Yacob Payu mengenang sang ibu, Saidah Puluhulawa, sang penenun terakhir di Desa Barakati, Kabupaten Gorontalo, yang telah pergi meninggalkannya sejak 2013 lalu. “Bahkan mungkin (penenun terakhir) di Gorontalo,” katanya dalam diskusi bertajuk “Kisah dan Koleksi Tenun Gorontalo” di Kota Gorontalo, melansir ANTARA.

Beberapa lembar kain tua terpampang di hadapan Yacob. Kain itu adalah hasil tenun Saidah yang tersisa, berikut alat titinggola (sebutan alat pemintal bagi masyarakat Gorontalo).

Saat Jepang masih menjajah Indonesia, rata-rata perempuan di Gorontalo menenun sendiri kain untuk pelindung tubuhnya. Satu lembar kain bisa memakan waktu sekitar satu hingga dua bulan, mulai dari proses memintal kapas, membuat benang, mewarnai, hingga menenun.

“Kata ibu, siapa yang tidak menenun pada masa itu, pasti dia telanjang. Jadi, mau tidak mau, harus menenun,” kata Yacob.

Tenun yang dibuat umumnya berupa pakaian, sarung, sajadah, taplak meja, dan kain untuk menyelimuti bayi.

Bahan pewarna yang digunakan juga berasal dari alam. Jingga adalah warna yang paling kentara dalam sentuhan tenun Gorontalo.

Warna jingga itu berasal dari walude, serupa tanaman liar yang ditumbuk lalu direbus. Sementara warna cokelat diambil dari kulit pohon bakau, sedangkan kuning menggunakan kunyit.

Leave a Reply