You are currently viewing Koneksi Bisnis Lemah Sebabkan Industri Perikanan dan Kelautan Anjlok?
Proses pengolahan ikan menjadi produk ikan kaleng di salah satu industri pengalengan ikan di Banyuwangi. (Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia)

Koneksi Bisnis Lemah Sebabkan Industri Perikanan dan Kelautan Anjlok?

EKONOMI & BISNIS

Peningkatan ekonomi nasional dari sektor kelautan dan perikanan belum maksimal tercapai dalam empat tahun terakhir. Ada hambatan seperti koneksi bisnis dari sektor tersebut belum terjalin dengan kuat. Bahkan, koneksi bisnis yang ada saat ini masih lemah, walau pasokan ikan sudah tersedia dengan melimpah.

Fakta tersebut diakui Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Jakarta, pekan lalu. Berbagai upaya mewujudkan peningkatan ekonomi dari sektor kelautan dan perikanan sudah dilakukan semaksimal mungkin dalam empat tahun. Salah satu simpulnya, adalah dengan merebut kembali kedaulatan laut Indonesia dari orang asing.

“Ikan sudah banyak, keluhannya orang yang nangkep ikan susah cari pasar. Sedangkan di satu posisi kita belum ada bahan baku. Kalau kapal asing masih jalan kita tidak punya bahan baku,” ungkapnya.

Mengingat masih ada kelemahan yang signifikan, Susi berharap Pemerintah, badan usaha milik Negara (BUMN), dan stakeholder kelautan dan perikanan untuk bisa melakukan koordinasi sebaik mungkin dalam bisnis dan investasi sektor tersebut. Koordinasi menjadi sangat penting, karena itu akan bisa mewujudkan akselerasi bisnis dan investasi.

Menurut Susi, pihak yang perlu segera melakukan akselerasi itu, diantaranya adalah BUMN seperti PT Perikanan Nusantara (Perinus) dan Perum Perindo. Kedua BUMN itu, diharapkan bisa segera meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia yang bergerak dalam sektor kelautan dan perikanan.

Tak hanya dua BUMN perikanan, Susi menyebut, demi keberlangsungan bisnis dan investasi sektor perikanan dan kelautan, dia juga meminta bantuan kepada PT Pelni untuk bisa menyediakan transportasi pengangkutan dan pengiriman produk kelautan dan perikanan di seluruh Indonesia. Terutama untuk pulau-pulau terluar di Indonesia.

“Seminggu tiga kali, paling tidak dari Merauke atau dari Timika (Papua), (kapal) Pelni selalu kosong pulangnya. Sementara kapal-kapal ikan di Timika dan Merauke nungguin dua minggu sekali untuk angkut ikannya,” jelasnya.

Dengan adanya rute yang bisa membantu pengangkutan dari pulau ke pulau, akan memangkas biaya dan waktu. Untuk itu, dia meminta Pelni untuk membantu optimalisasi pemanfaatan fasilitas transportasi milik Negara untuk pengangkutan produk kelautan dan perikanan.

Melalui kemudahan yang diharapkan bisa diberikan Pelni dan BUMN lain, Susi berharap, bisnis dan investasi di Indonesia bisa terus membaik. Tetapi, agar bisa berjalan selaras, dia meminta semua pihak terkait untuk melakukan perbaikan dalam menggenjot perekonomian di sektor yang dipimpinnya itu.

Hal lain yang disoroti Susi dan harus diperbaiki, seperti memperbaiki sistem logistik dan transportasi produk perikanan, mengubah pola pikir pengusaha yang berorientasi pada usaha perikanan yang berkelanjutan, menyiapkan dukungan permodalan bagi nelayan dengan bantuan perbankan, dan menyiapkan pengusaha perikanan yang inovatif dan mampu mengolah diversifikasi produk perikanan.

Leave a Reply