Areal persawahan dan irigasi yang berada di Desa Waturaka, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dijadikan sebagai salah satu lokasi ekowisata. (foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia).
Areal persawahan dan irigasi yang berada di Desa Waturaka, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dijadikan sebagai salah satu lokasi ekowisata. (foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia).

Menengok Desa Ekowisata Terbaik Nasional

Nama Waturaka di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende kian populer di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Danau Kelimutu. Desa yang berada persis di samping jalan raya utama menuju danau Kelimutu merupakan salah satu desa ekowisata terbaik di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hampir setiap hari wisatawan lokal dan mancanegara hilir mudik di desa ini. Wisatawan betah menginap di 20 home stay Desa Waturaka.

Wisatawan bisa ikut memasak dan melakukan aktifitas bersama pemilik rumah dan warga sekitar. Kita seperti sedang berada di rumah sendiri saja,” kata Taufik Koban, wisatawan lokal yang pernah menginap di Waturaka kepada Mongabay Indonesia, Rabu 28 Agustus 2019.

Apa yang membuat desa Waturaka ramai dikunjungi wisatawan?

Selain home stay berstandar pariwisata, desa ini diberi penghargaan desa ekowisata terbaik oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Kami mendapat penghargaan sebagai desa wisata alam terbaik tahun 2017. Ini sebuah pencapaian yang luar biasa,” kata Ignasius Leta Odja, pelopor dan penggerak desa ekowisata Waturaka saat dihubungi Mongabay Indonesia, Rabu 28 Agustus 2019.

Dianggap gila

Berawal tahun 2011, Sius – sapaan akrab Ignatius Leta Odja – melihat desanya berpotensi menjadi desa ekowisata untuk menarik minat wisatawan yang berkunjung ke danau tri warna Kelimutu. Selama ini wisatawan hanya menginap di Desa Konara, Kecamatan Kelimutu.

Berbekal pengetahuan ala kadarnya, Sius bergerak sendiri memungut sampah dan membuka jalur ke tempat wisata seperti air terjun Murukeba dan air panas Kolorongo.

Saya dianggap orang gila oleh orang kampung tapi saya tetap bekerja sendiri. Tekad saya ingin menjadikan desa saya sebagai desa ekowisata,” katanya.

Leave a Reply