Minim Literasi Jasa Keuangan
Ilustrasi.

Minim Literasi Jasa Keuangan

EKONOMI & BISNIS

MANADO, publikreport.com – Kepala Bagian EPK, IKNB dan Pasar Modal KOJK Sulawesi Utara (Sulut), Gorontalo dan Maluku Utara (Malut), Ahmad Husein menyampaikan berdasarkan survei OJK (Otoritas Jasa Keuangan) 2016 khususnya di Provinsi Sulut, literasi atau pemahaman terhadap produk jasa keuangan hanya sebesar 28 persen. Sedangkan tingkat penggunaan produk sebesar 68 persen. OJK sendiri menargetkan tingkat inklusi harus tercapai 75 persen ditahun 2019 nanti.

“Ada gap yang besar antara inklusi penggunaan dan pemahaman terhadap pemanfaatan,” ungkap Ahmad pada sosialisasi dan edukasi waspada investasi keuangan bagi pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) se-Provinsi Sulut, Kamis, 30 Agustus 2018.

Dengan adanya sosialisasi seperti ini, Ahmad berharap, literasi dan pemahaman masyarakat bertambah dan menggunakan produk jasa keuangan.

“Jangan mudah tertipu dengan investasi-investasi yang tidak baik,” pesannya.

DWP Jadi Agen

Ketua DWP Provinsi Sulut, Ivonne Silangen-Lombok mengatakan memang tak bisa dipungkiri, sehatnya manajemen keuangan dalam keluarga menjadi salah satu indikator kebahagiaan rumah tangga. Tentunya peran perempuan sebagai ibu rumah tangga sangat penting karena berfungsi secara langsung sebagai pengelola keuangan dalam keluarga.

Peran strategis ini, menurut Ivonne, harus diimbangi dengan pengetahuan tetnagn pengelolaan keuangan yang baik, bahkan pengetahuan terhadap ancaman investasi illegal atau bodong yang saat ini kerap diberitakan.

“Saya saksikan di media sosial banyak yang tertipu oleh investasi bodong ini. Sehingga melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi seperti ini para ibu mendapatkan pemahaman dan pencerahan tentang hal-hal yang berkaitan dengan investasi,” harapnya.

BACA JUGA: OJK Ingatkan Warga Sulut Kerugian Investasi Bodong
BACA JUGA: OJK: Investasi Bodong Masih Marak Terjadi