Patung opo/dotu Tololiu berdiri megah di bundaran persimpangan jalan yang berada di Kelurahan Matani III, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). (foto: publikreport.com)
Patung opo/dotu Tololiu berdiri megah di bundaran persimpangan jalan yang berada di Kelurahan Matani III, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). (foto: publikreport.com)

Nimawanua, Kota Tua Tomohon

Kota tua Tomohon yang terkenal dengan nama Nimawanua, Mawanua atau Tonsaru di Kelurahan Kolongan 1, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Proivinsi Sulawesi Utara (Sulut) dari kisah-kisah hancur dan benar-benar ditinggalkan akibat gempa bumi besar yang terjadi di Minahasa tanggal 08 Februari 1845.

Berbagai cerita rakyat mengisahkan gempa bumi berkepanjangan berlangsung selama sembilan hari. Akibatnya, pemukiman dan banyak rumah hancur dan roboh. Penduduk tidak dapat memasak sehingga terpaksa menanak nasi dengan menggunakan bulu tambelang, juga pada belanga yang digantung pada tiang di tanam.

Atas anjuran pemerintah, berlangsung perpindahan besar-besaran yang membentuk negeri-negeri: Matani, Kamasi, Talete, Kolongan dan Paslaten.

Pemindahan ‘kota’ Tomohon ke lokasi baru, yakni lokasi Kota Tomohon sekarang, dilakukan atas perintah Kepala Balak Tomohon. Mayoor Mangangantung alias Ngantung yang kemudian dibaptis Kristen bernama Ngantung Palar. Selain rumah di Matani, ia membangun rumah baru di Paslaten (sekarang Kelurahan Paslaten I). Disampingnya, rumah anaknya Rondonuwu, kelak dibaptis Kristen bernama Roland Ngantung Palar yang menjabat Hukum Kedua.

Meski demikian, tuturan mengungkapkan.pula, pemindahan yang sering dikait-kaitkan dengan terjadinya wabah penyakit itu, telah mulai berlangsung sejak akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

Di mulai dari Matani di tahun 1795 dipimpin Ransun dan Rosok; Kamasi tahun 1805 dipimpin Sangi. Lalu dari Kamasi dibuka Walian dipimpin Ambei Rumagit Runtuwene, dan Pangolombian oleh Pandelaki Lumowa di tahun 1830. Menyusul, keluar dari Nimawanua, penduduk yang mendirikan Talete di bawah Lukas Wenas di tahun 1831, Paslaten di tahun 1840 dipimpin Wahani, dan terakhir Kolongan di tahun 1843 oleh Tololiu.

BACA JUGA: Gempa Pernah Hancurkan Minahasa

Penyebaran penduduk Tomohon malah meluas. Dari Kamasi, Paslaten, Talete dan Kolongan, keluar Pangkei Posumah, Herman Prang, Se’pal Wowiling dan Prokok Moningka, mendirikan Rurukan. Prokok Moningka kemudian mendirikan Rumengkor dan Suluan. Terakhir, Kumelembuai dibuka tahun 1858 oleh Hendrik Kapoh dan Cornelius Pangemanan yang datang dari Talete.

Kini, bekas kota yang dilaporkan menjadi kota terbesar di Tanah Minahasa sejak masa Gubernur Dr Robertus Padtbrugge di dekade akhir abad ke-17 tersebut, sudah sulit dikenali, karena di situ telah bertumbuh kota satelit baru Tomohon. Pemukiman penduduk tumbuh sangat pesat, disamping fasilitas kesehatan, dan perkantoran. Semua ini berawal ketika Misi Katolik membeli tanah cukup luas, lalu membangun Mei 1918 rumah sakit ‘Marienheuvel’ dari kembangan klinik bulan Juli 1916. Rumah sakit itu sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit Katolik ‘Gunung Maria’. Berbagai fasilitas milik Katolik berdiri pesat hingga kini. Antara lain lagi biara, SLB C ‘Santa Anna’, Panti Samadi dan Akademi Keperawatan ‘Gunung Maria’.

BACA JUGA: Sarongsong, Negeri Legenda yang Hilang

Leave a Reply