PUBLIKREPORT.com

Penginjil Sebut, Tuhan Sengaja Menurunkan Covid-19

RELIGI

Keterangan foto: Pdt Dr Johny Tamboto MTh.

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN:

“Yang harus kita jalani adalah Pertobatan. Jangan lagi kita terus berupaya mencuri kemuliaan Tuhan. Wahyu 6:6 berkata: Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu. Kalimat: Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu menjelaskan, bahwa orang yang hidup ke-Kristenan-nya benar dan takut Tuhan… akan tetap aman dalam perlindungan Tuhan”

Pendeta Dr Johny Tamboto MTh

MINAHASA, publikreport.com – Sejumlah penginjil di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengemukakan pendapat theologia mereka soal keberadaan Covid-19 (Coronavirus Disease 2019).

Menurut Evangelis Pendeta (Pdt) Noldy Paat STh (Sarjana Theologia), dalam Khotbahnya, kemarin, sesungguhnya Virus Corona sengaja dihadirkan Tuhan, dan sebelumnya sudah dinubuatkan oleh para Nabi dalam Kitab Suci Alkitab.

“Covid-19 ini sudah dinubuatkan dalam Yesaya 22:5 yang berkata: Sebab Tuhan, TUHAN semesta alam telah menentukan suatu hari: Ia akan menggemparkan, menginjak-injak dan mengacaukan orang: Di “lembah penglihatan” tembok akan dirombak dan teriakan minta tolong sampai kepuncak gunung!” ungkap Noldy dalam Ibadah Minggu beberapa waktu lalu.

Noldy yang dikenal sebagai penginjil lintas jemaat di Provinsi Sulut dan Gorontalo ini mengatakan, Virus Corona dihadirkan Tuhan karena ulah umat manusia itu sendiri.

“Karena itu, kita manusia wajib mentaati firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam 2 Tawarikh 7:14 yang berbunyi: Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka,” ujar Noldy.

Corona di isinkan Tuhan turun kebumi, juga dibenarkan oleh Pendeta John Talumepa.

“Sama persis dengan kondisi di zaman Nabi Ayub sebagaimana yang tertulis dalam Kejadian 6:12. “Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi,” ucapnya.

Tindakan manusia, sebut John, yaitu bertobat, agar tulisan Kejadian 6:13 tidak terulang di bumi.

“Umat manusia harus bertobat agar tidak berlanjut pada ayat berikut yang berkata: Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi,” urainya.

Dipihak lain, Evangelis Astrid Lendamanu menghimbau warga Kristen untuk mematuhi semua arahan pemerintah yang adalah wakil Allah.

“Harus patuhi arahan pemerintah untuk pakai masker, selalu cuci tangan dan lain-lain, karena mereka adalah wakil Allah sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Roma 13 : 1 yang berkata “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang diatasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah,” kata Evangelis muda dari Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) ini.

“Jika kita setia sebagai anak Tuhan, maka kita sudah dijamin sebagai mana doa Tuhan Yesus: yang berbunyi ”Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu,” kata Astrid mengutip Injil Yohanes 17:9.

Seperempat Penduduk Bumi Bisa Tewas

Sementara Pendeta Doktor (Dr) Johny Tamboto MTh (Master Theologia) mengemukakan hal yang sangat mengejutkan. Dikatakannya, pada wartawan publikreprt.com, bahwa pandemi Covid-19, sebagaimana tersirat dalam Wahyu 6:7-8, baru akan menghilang dari bumi jika sudah ada seperempat penduduk bumi yang tewas.

“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata: “Mari!”. Dan aku melihat: Sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi,” ungkap Johny mengutip ayat dimaksud.

Dijelaskan Johny yang merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Provinsi Papua Barat ini, pengertian warna hijau kuning dalam Firman ini adalah warna mayat.

“Keempat macam penderitaan ini, yaitu pedang, kelaparan, sampar, dan binatang-binatang buas yang di bumi, juga dinubuatkan dalam Kitab Yehezkiel 14:13-21: Dan aku melihat: Sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya…… ” ujar Tamboto yang saat ini berada di Kelurahan Taratara 3, Kecamatan Tomohon Barat, Kota Tomohon.

Lanjut dijelaskannya, kata Maut sama dengan Sampar, sesuai arti dalam kamus bahasa Yunani-Indonesia… θανατος. Thanatos = Maut, Sampar, Kematian, Hukuman Mati. Kamus Latin-Indonesia. Corona = Mahkota Ay. 8. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.

“Jadi yang di maksud “Kerajaan Maut” adalah Neraka, sedangkan Maut adalah Sampar atau Kematian yang disebabkan oleh Penyakit Sampar yang sangat berbahaya. Sama dengan ketika bangsa Israel mau meninggalkan tanah Mesir dan terjadi tulah yang Kesepuluh yaitu Kematian anak-anak sulung yang dibunuh oleh Malaikat Maut,” paparnya.

Corona, sesuai Wahyu 6:8, Johny melanjutkan, bagaikan Malaikat Maut pencabut nyawa yang tidak pandang bulu, apakah dia masyarakat biasa, pejabat negara atau pejabat biasa maupun pendeta yang sudah mencuri kemuliaan Tuhan akan didatangi Corona.

“Jika hukuman ini benar terjadi, maka akan mengakibatkan matinya 1.25 miliar orang, jika didunia ada 5 miliar orang,” ujarnya.

“Yang harus kita jalani adalah Pertobatan. Jangan lagi kita terus berupaya mencuri kemuliaan Tuhan. Wahyu 6:6 berkata: Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu. Kalimat: Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu menjelaskan, bahwa orang yang hidup ke-Kristenan-nya benar dan takut Tuhan… akan tetap aman dalam perlindungan Tuhan,” tutupnya. JOPPY WONGKAR

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Warga Desa Kopiwangker Ditemukan Tak Bernyawa di Perkebunan Desa Raranon

Read Next

Ini Prioritas Kapolda Sulut, Irjen Panca Putra