Rumpon yang dipasang di perairan untuk menarik ikan. (Foto: aquatec.co.id)
Rumpon yang dipasang di perairan untuk menarik ikan. (Foto: aquatec.co.id)

Perairan Laut Sulut Lokasi Favorit Pemasangan Rumpon Ilegal

Perairan Laut Sulawesi Utara (Sulut) masih menjadi lokasi favorit penanaman rumpon (fishing aggregating device/FAD) tak berizin yang diduga kuat dilakukan oleh nelayan berkewarganegaraan Filipina. Aktivitas ilegal itu masih terus berlangsung hingga sekarang, karena nelayan Filipina ingin mendapatkan tangkapan ikan yang banyak di perairan laut Indonesia.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Agus Suherman, dorongan kuat untuk mendapatkan tangkapan ikan yang banyak, memaksa nelayan Filipina untuk mencari akal. Terlebih, karena sejak 2014, mereka sudah dilarang menangkap ikan langsung di perairan laut Indonesia.

Makanya, nelayan Filipina memasang banyak rumpon di wilayah perbatasan Filipina-Indonesia. Setidaknya, bisa dilihat dengan jumlah rumpon yang berhasil diamankan oleh Kapal Pengawas (KP) Perikanan sepanjang 2019 yang jumlahnya sudah mencapai 33 rumpon,” ungkap dia pekan lalu di Jakarta.

Agus mengatakan, bukti bahwa masih banyak rumpon yang tertanam di dalam perairan wilayah Sulawesi Utara, terlihat dari hasil pengawasan KP Hiu 15 yang dikendalikan Stasiun PSDKP Tahuna pada Jumat 10 Mei 2019. Dari operasi tersebut, kapal menemukan 4 alat bantu penangkapan ikan rumpon ilegal milik nelayan Filipina.

Menurut Agus, rumpon-rumpon yang dipasang tanpa ada izin dari Pemerintah Indonesia itu berlokasi di wilayah perairan Indonesia, tepatnya sekitar 3 mil laut pada perairan zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI). Lokasi perairan tersebut sebelumnya juga sudah sering ditemukan rumpon yang ditanam oleh nelayan Filipina.

Adapun, keempat rumpon yang berhasil diamankan tersebut, oleh KP Hiu 15 kemudian dibawa dan diserahkan ke Pangkalan PSDKP Bitung. Pemilihan Bitung sebagai tempat penyerahan, karena dari titik lokasi penemukan terjangkau lebih dekat. Selain itu, pada saat operasi, gelombang laut sedang tidak dalam kondisi normal dan itu membuat pengiriman tidak ke Tahuna, melainkan ke Bitung.

Leave a Reply