PUBLIKREPORT.com

Pertanian Berkelanjutan: Untuk Keamanan Pangan atau Untuk Ketahanan Petani?

Persawahan di Perkebunan Wanambawa. Di areal persawahan ini petani menanam jenis padi Inpari 30. Ujicoba bibit padi bantuan Dinas Pertanian dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) ini sudah yang kedua kalinya. Dengan bibit padi ini petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Makaaruyen Woloan III Kecamatan Tomohon Barat sekali panen menghasilkan 7,5 ton gabah per haktare. (Foto: publikreport.com)

Persawahan di Perkebunan Wanambawa. Di areal persawahan ini petani menanam jenis padi Inpari 30. Ujicoba bibit padi bantuan Dinas Pertanian dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) ini sudah yang kedua kalinya. Dengan bibit padi ini petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Makaaruyen Woloan III Kecamatan Tomohon Barat sekali panen menghasilkan 7,5 ton gabah per haktare. (Foto: publikreport.com)

https://publikreport.com [responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Play”]

Oleh: Ica Wulansari*

Pertanian berkelanjutan merupakan konsep yang digunakan oleh lembaga pangan dunia FAO (Food and Agriculture Organization), untuk menghubungkan antara masalah ketahanan pangan dengan wacana perubahan iklim. Pertanian berkelanjutan dipandang FAO sebagai upaya mitigasi penting yang dapat menurunkan emisi karbon.

Berdasarkan penelitian FAO, maka sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang menyumbangkan emisi karena dapat meningkatkan temperatur udara antara 1 hingga 2 derajat celcius. Pengurangan emisi pun telah menjadi kesepakatan global, seperti disepakati dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim yang termaktub dalam Paris Agreement.

Untuk mengakomodir hal tersebut, perubahan sistem pertanian dan sistem pangan perlu memuat perubahan yang bersifat ekonomis dan teknis. Faktor perubahan teknis salah satunya, adalah mencakup ketersediaan benih yang tahan terhadap kekeringan maupun tahan banjir. Selain itu, pertanian modern menggunakan mesin dapat menjadi salah satu bentuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Namun, secara teknis terdapat permasalahan yaitu: “Adakah varietas tanaman pangan yang resisten terhadap hama?” Faktanya, keberadaan hama mendorong penggunaan pestisida besar-besaran; bahkan zat aktif yang terkandung dalam pestisida cukup berbahaya bagi lingkungan hidup.

Wacana praktek pertanian berkelanjutan memang ideal, namun faktanya belum mampu memecahkan permasalahan terkait penyediaan varietas tahan hama dan mekanisme mengatasi hama dengan menggunakan pestisida.

Prinsip pengelolaan hama terpadu (Integrated Pest Management) pada kenyataannya semakin jauh dari ideal. Hal tersebut karena revolusi hijau telah mengubah prinsip petani untuk tidak lagi ‘peduli’ ekosistem karena lebih terfokus pada pengejaran produksi.

Selain itu, praktek pertanian berkelanjutan “seakan-akan” melupakan aktor yang seharusnya menjadi faktor pendukung utama, yaitu “petani yang berketahanan”. Argumen ini tentunya relevan jika diperhadapkan dengan konsep pertanian berkelanjutan untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Kondisi kerentanan petani di Indonesia

Read Previous

Tiga Kapolsek dan 2 Kasat di Minsel Diganti

Read Next

Cacing Sutera, Peluang Baru untuk Perikanan Budi daya

Leave a Reply