Penyidik Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut) memasagn police line pada salah satu perusahaan yang berada di Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Perusahaan tersebut bergerak pada bidang pengumpulan limbah bahan beracun berbahaya (B3).
Penyidik Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut) memasagn police line pada salah satu perusahaan yang berada di Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Perusahaan tersebut bergerak pada bidang pengumpulan limbah bahan beracun berbahaya (B3).

Perusahaan di Minut Ini ‘Disegel’ Polda

HUKUM

MANADO, publikreport.com – Sebuah perusahaan yang beralamat di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dipasangi police line oleh penyidik Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sulut. Perusahaan tersebut bergerak pada bidang pengumpulan limbah bahan beracun berbahaya (B3).

Kami dari Subdit Tipiter Ditreskrimsus Polda Sulut, Senin 05 Maret telah melakukan police line terhadap PT Sagraha,” ugnkap Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Sulut, melalui Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Tipiter, Komisaris Polisi (Kompol) Feri Sitorus, usai meninjau gudang perusahaan itu yang berada di Jalan Bypass, Kabupaten Minut bersama sejumlah awak media, Jumat 06 Maret 2020, sore.

Perusahaan itu, Feri mengatakan, melakukan aktivitas berupa pengumpulan bahan berbahaya beracun (B3), baik yang padat maupun yang cair. Padahal, menurutnya, perusahaan tersebut tidak memiliki dokumen ijin yang lengkap dalam aktivitas mereka.

Kita menganalisa melalui gelar perkara, ijin mereka belum sempurna, yaitu mereka belum memiliki ijin Tempat Penyimpanan Sementara (TPS),” ungkapnya.

Perkara ini, Feri mengungkapkan, sudah dinaikkan ke tingkat penyidikan dan sudah ditetapkan satu orang sebagai terlapor, yaitu seorang pimpinan perusahaan tersebut.

BACA JUGA: Stryofoam Dianggap Berbahaya untuk Kesehatan, Ini Faktanya

Proses selanjutnya kita akan lengkapi Mindik (Administrasi Penyidikan). Kita akan menghadirkan saksi ahli. Kita akan melakukan gelar perkara kembali untuk menetapkan tersangka, kemudian dilimpahakn tahap satu ke Kejaksaan,” bebernya.

Barang bukti yang ditemukan di lapangan, Feri mengungkapkan, yaitu limbah cair berupa oli bekas sebanyak 6.000 liter dan beberapa limbah padat lainnya yang berada di dalam gudang.

Dengan adanya police line ini, aktivitas pengumpulan limbah untuk sementara dihentikan. Ancaman hukuman yaitu Pasal 102 jo 59 ayat 4 UU No 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup dengan ancaman hukuman 1 tahun dan maksinal 3 tahun serta denda Rp3 miliar,” tegasnya. | ALFIAN TEDDY

Leave a Reply