Sekolah Menengah Agama Kristen (SMAK) Peter & Paul yang berlokasi di Kelurahan Uluindano, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dan Ketua Yayasan ASOC, Daniel Hari Mamahit. (foto: publikreport.com)
Sekolah Menengah Agama Kristen (SMAK) Peter & Paul yang berlokasi di Kelurahan Uluindano, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dan Ketua Yayasan ASOC, Daniel Hari Mamahit. (foto: publikreport.com)

‘Pesantren’ Agama Kristen di Tomohon

PENDIDIKAN | RELIGI

TOMOHON, PUBLIKREPORTcom – Pendeta Maxi Mailoor STh, salah satu perintis Sekolah Menengah Agama Kristen (SMAK) Peter & Paul yang berlokasi di Kelurahan Uluindano, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), mengungkapkan sekolah ini kerap disebut Pesantren Agama Kristen. Sekolah ini baru beroperasi setahun lebih.

“Sekolah ini resmi beroperasi pada 16 Juni 2018,” jelas Maxi kepada publikreport.com, Sabtu 28 September 2019.

Sebagaimana pesantren, menurut Maxi, pengelolaan sekolah ini tidak berada dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) daerah. Sekolah ini langsung dibawah Kementerian Agama (Kemenag).

“Sama seperti Pesantren Agama Islam langsung dibawah Kementerian Agama,” ungkapnya.

Siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut, Maxi mengungkapkan, tidak dipungut biaya sepeser pun sampai tamat. Semua biaya operasional, termasuk baju seragam, sepatu, tas sampai asrama ditanggung oleh Yayasan ASOC.

Ketua Yayasan ASOC, Daniel Hari Mamahit menjelaskan, SMAK Peter & Paul di Kelurahan Uluindano ini, dengan sebuatan sekolah pesantren juga punya jam rutin melakukan doa puasa setiap hari.

“Selain doa umum pada pagi hari, sekolah ini punya jadual rutin dan wajib berdoa 40 menit pada setiap pukul 17.00 WITA (sore) dan 40 menit pada pukul 20.00 WITA (malam). Siswa juga tidak boleh pulang kecuali ada kejadian luar biasa,” bebernya.

SMP Kristen Tanawangko Terancam Kehabisan Siswa

Leave a Reply