You are currently viewing Rakyat Memilih atau Rakyat Menggugat
Ilustrasi.

Rakyat Memilih atau Rakyat Menggugat

Dalam tahapan politik (Pemilihan Umum serentak Pilpres dan Pileg) ini, bahasa-bahasa atau pernyataan akan komitmen, saya akan pilih di anu karena dia merakyat, karena dia keluarga dekat, karena dia teman dekat, karena, karena, karena dan alasan-alasan lain.

***

Baru-baru ini rakyat Indonesia terhenyak kaget mendengar dan membaca berita sebanyak 41 anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Malang, Provinsi Jawa Timur (Jatim) ditetapkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai tersangka. Para wakil rakyat ini harus berurusan dengan hukum karena terjerat dugaan suap persetujuan penetapan Ranperda (Rancangan Peraturan Daerah) tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran (TA) 2015.

Saat ini dikatakan tahun politik (Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif). Rakyat disodorkan berbagai hal yang indah. Tingkat kekritisan seseorang – apalagi bakal menjadi calon wakil rakyat (anggota DPR RI, DPRD) – meningkat. Konsep, ide, gagasan berbentuk janji disampai-sampaikan para simpatisan, maupun pendukung fanatik.

Mereka yang bakal menjadi wakil rakyat yang terhormat ini sebagian besar datang dari kaum berpunya (materi). Karena mungkin jika tidak berpunya (materi) dikhawatirkan tidak laku dijual kendati merupakan sosok yang cukup dikenal dekat dengan petani, nelayan, pedagang kaki lima, pengganggur, sopir, kuli bangunan dan lan-lain.

Tak dipungkiri pula, ada beberapa dari mereka (calon) yang datang dari kaum the have dekat dengan rakyat kecil. Apakah sudah pembawaan bukan dibuat-buat karena menjadi calon/tampil dipanggung politik. Atau sekedar disetting untuk mencitrakan diri merakyat dihadapan rakyat.

Dalam tahapan politik (Pemilihan Umum serentak Pilpres dan Pileg) ini, bahasa-bahasa atau pernyataan akan komitmen, saya akan pilih di anu karena dia merakyat, karena dia keluarga dekat, karena dia teman dekat, karena, karena, karena dan alasan-alasan lain.

Janji dan lontaran kata-kata politik indah dalam semua aspek (pemerintahan, sosial, budaya, sejarah, pembangunan, kesejahteraan rakyat, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya) juga meluncurkan dari para calon wakil rakyat. Semua menjadi hebat. Ada kritik tanpa solusi, kritik konstruktif atau sekedar wacana dan retorika. Yang penting indah didengar… hmmm

Leave a Reply