You are currently viewing Relokasi Waruga di Kuwil Disepakati dengan Cara Adat
Rapat Koordinasi (Rakor) terkait penyelesaian relokasi cagar budaya waruga, Senin, 30 Juli 2018,, Rakor ini dihadiri antaranya Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Widiaty, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sulut, Ferry Sangian, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi I, Kepala Arkeolog Manado, Kepala Pelestarian Nilai Budaya Manado, Kepala Cagar Budaya Gorontalo, Ormas Brigade Manguni Indonesia, para Hukum Tua, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat.

Relokasi Waruga di Kuwil Disepakati dengan Cara Adat

MANADO, publikreport.com – Relokasi waruga karena adanya pembangunan waduk di Desa Kuwil dan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) disepakati akan dilakukan dengan cara adat. Kesepakatan ini diambil setelah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) terkait penyelesaian relokasi cagar budaya waruga, Senin, 30 Juli 2018.

“Sekarang semua sudah terang dan jelas, Pemerintah Provinsi Sulut bersama dengan stakeholders terkait mari kita bekerja sama dalam proses relokasi cagar budaya waruga ini dan mengawal pembangunan bendungan  sampai selesai. Bila tempat tersebut menjadi potensi objek wisata tentu ikut memajukan perekonomian masyarakat setempat dan daerah Sulawesi Utara,” kata Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdaprov Sulut, Edison Humiang saat memimpin Rakor di ruang WOC Kantor Gubernur Sulut.

Balai Wilayah Sungai sebagai satuan kerja pelaksana pembangunan berjanji akan menyiapkan lahan untuk tempat pemindahan waruga yang terdampak pembangunan waduk.

Diketahui, sejak pembangunan waduk ini dimulai pada 2016, Pemerintah Provinsi Sulut telah mengadakan mediasi dalam pembentukan Tim 9 (Makasiouw) yang ditetapkan Tokoh masyarakat/Adat Minahasa Raya. Saat itu rapat dilaksanakan di Kantor Hukum Tua Desa Kawangkoan, dengan kesepakatan waruga yang akan dipindahkan sebanyak 47 buah dengan cara adat sesuai permintan organisasi adat yang hadir waktu itu.

Leave a Reply