Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal (Ditjen) Tanaman Pangan Kementan, Takdir Mulyadi saat melakukan penanaman perdana tetua jantan jagung Nasa 29 di Perkebunan Desa Remboken, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulut, sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan kelompok tani (Poktan) di Minahasa, Jumat 04 Oktober 2019.
Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal (Ditjen) Tanaman Pangan Kementan, Takdir Mulyadi saat melakukan penanaman perdana tetua jantan jagung Nasa 29 di Perkebunan Desa Remboken, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulut, sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan kelompok tani (Poktan) di Minahasa, Jumat 04 Oktober 2019.

Remboken Salah Satu Daerah Produksi Benih Jagung di Indonesia

MANADO, publikreport.com – Kementerian Pertanian (Kementan) mempersiapkan sejumlah daerah untuk menjadi daerah produksi Jagung Hibrida Nasa 29 seluruh Indonesia. Daerah-daerah tersebut, antaranya Remboken, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Tubang, Lampung di Sumatera, Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Bone di Sulawesi Selatan (Sulsel) .

Kementan dalam program penyediaan benih jagung, Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal (Ditjen) Tanaman Pangan Kementan, Takdir Mulyadi mengungkapkan, akan menghela 2.2 juta hekto are (ha), untuk seluruh Indonesia (Selindo). Dan pada tahun 2020, program produksi benih jagung 1,4 triliun dan ada program swadaya. Jadi total nasional tahun 2020 ada 6 juta ha. Untuk itu, pilot proyek ini akan menjadi indikator lanjut dan tambah ke depan bila itu baik.

Untuk itu kepada kepada para produses, Takdir meminta agar menjag mutu dari produk, mengikuti prosedur yang dipersyaratkan, konsisten dalam menjaga kepercayaan dan bangun komunikasi kerja dalam program ini.

Agar harapan koorporasi yang kita awali ini, dapat menghasilkan sesuai yang kita harapkan, yakni menjadikan benih jagung kita, raja di negerinya sendiri,” tegas Takdir pada saat melakukan penanaman perdana tetua jantan jagung Nasa 29 di Perkebunan Desa Remboken, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulut, sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan kelompok tani (Poktan) di Minahasa, Jumat 04 Oktober 2019.

Dalam program ini, menurut Takdir akan akan ada pengawalan, sehingga kepada para produsen dimintanya tak usah kuatir soal teknis.

Teman-teman pengawas benih, penyuluh pertanian dan pihak penyedia benih serta sumber teknolog seperti dari Balitbangtan, Balitserelia dan BPTP Sulut ada,” jelasnya.

Para petani yang terlibat dalam program ini, Takdir berharap, untuk melaksanakan kegiatan dengan baik, mengikuti prosedur produkdi agar hasilkan benih yang benar berkualitas, dari persyaratan benih hibrida. Agarapa yang dihasilkan tidak ada komplain.

Impor bukan solusi

Beberapa pekan yang lalu, Takdir mengungkapkan, pihaknya didatangi oleh pihak yang suka import. Terkait permintaan impor ini, mereka kemudian rapat bersama termasuk dengan pihak BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan).

Hasilnya kita tidak import. Karena kita ada benih hasil rakitan dalam negeri, termasuk yang akan kita perbanyak dalam program ini,” ujarnya.

Karena impor bukan solusi membantu petani, tapi justru kita akan keluarkan modal kita keluar negeri. Bukankah tidak lebih baik, kita hasilkan benih dari karya anak bangsa. Dan memang ada tetua kita. untuk itu kita berbangga tidak impor, tapi kita akan produksi sendiri,” sambungnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sulut, Novly Wowiling mengaku menyambut baik program ini. Menurutnya dinamika permasalahan perbenihan selalu saja ada. Pengalamannya pada tahun 2017 lalu, luas tanam di Sulut 350 ha, program pusat terealisasi dengan baik, walau faktor pembatas benih ini yang agak mengganggu.

Leave a Reply