You are currently viewing Sampah di Masa Pandemi, Bagaimana Potensi Pemanfataan?
Limbah plastik infus, perban, selang infus, kasa dan lainnya yang bercampur dengan sampah domestik di TPA Bakung, Sabtu, 6 Februari 2021. (Foto: Derri Nugraha/mongabay.co.id)

Sampah di Masa Pandemi, Bagaimana Potensi Pemanfataan?

Berdasarkan data KLHK pada 2019, timbulan sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari atau 64 juta ton pertahun. Sekitar 50% dari timbulan itu didominasi sampah organik.

Dengan memanfaatkan teknologi BSF, katanya, sektor peternakan pun bisa diuntungkan dengan hasil maggot. Terlebih, katanya, sekitar 60% kebutuhan protein pakan unggas dari impor. Umumnya, peternak pakai kedelai dan tepung ikan untuk pemenuhan protein ternak.

Dia menyebut, pemanfaatan maggot sebagai pakan ternak ini sudah dilakukan di Payakumbuh, Sumatera Barat. Sebelum memakai maggot, para peternak di sentra peternakan unggas harus merogoh kocek Rp15 juta untuk pakan. Kini, pengeluaran itu bisa ditekan hanya Rp1 juta dengan memanfaatkan maggot.

“Kita memiliki 514 labupaten/kota, kalau teknologi ini didorong, maka bisa menyediakan maggot untuk peternak,” ucap Novrizal.

Pengelolaan sampah pun berpotensi untuk jadi pemasok kebutuhan bahan baku daur ulang kertas dan plastik dari dalam negeri. Selama ini, kebutuhan industri ini banyak dipasok dari luar negeri.

Novrizal menyebut, bahan baku industri kertas untuk scrap paper mencapai 7 juta ton pertahun. Biasanya, industri kertas sanggup membayar Rp2,5 juta per ton scrap kertas.

“Berarti, kalau dikalikan, ada peluang hampir Rp20 triliun dari industri ini kalau kita bisa masuk di sini. Itu baru kertas, belum plastik.”

Untuk mencapai ini, katanya, perlu upaya buat memaksimalkan kapasitas penyedia bahan baku industri ini dari sampah. Untuk itu, pemerintah berencana meluncurkan peta jalan penyediaan bahan baku kertas dalam negeri.

Dorong sirkular ekonomi

Leave a Reply