Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana didampingi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Sangihe, Hermin Ririswati Gaghana-Katamsi, Rabu 23 Oktober 2019, melakukan panen panen buah semangka, tomat, cabe, bawang, terong dan ketimun di Kelurahan Pananekeng.
Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana didampingi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Sangihe, Hermin Ririswati Gaghana-Katamsi, Rabu 23 Oktober 2019, melakukan panen panen buah semangka, tomat, cabe, bawang, terong dan ketimun di Kelurahan Pananekeng.

Sangihe Swasembada Tomat dan Cabe

TAHUNA, publikreport.com – Bertahun-tahun Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) bergantung pasokan bahan seperti tomat dan cabe dari luar daerah. Namun, kini Kepulauan Sangihe sudah swasembada tomat dan cabe, sekaligus mampu memenuhi kebutuhan warga setempat.

Butuh waktu dan kerja keras dalam mengintervensi petani agar mengeluti tanaman tomat dan cabe. Mengingat selama ini petani di Sangihe lebih fokus pada hasil pertanian warisan seperti, pala, cengkih dan kelapa. Tapi pada akhirnya petani di daerah kita mampu menyesuaikan diri dengan mengeluti tanaman cabe dan tomat,” jelas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Sangihe, Goldfried Pella.

Kerja keras ini, menurut Goldfried, sehingga saat ini Sangihe tidak bergantung komoditi tomat dan cabe dari Manado. “Produk petani lokal sudah mencukupi,” tegasnya.

Meski telah swasembada, Goldfried mengakui pengembangan tomat dan cabe, termasuk bawang yang belakangan ini sedang digiatkan, akan terus diperlebar mencakup wilayah lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

BACA JUGA: Panen Semangka, Tomat, Cabe dll di Sangihe

Sejauh ini enam kelurahan d Kecamatan Tahuna Barat sudah menjadi sentra produksi tomat dan cabe, termasuk Kampung Malamenggu, Kecamatan Tabukan Selatan dan wilayah Kecamatan Tabukan Utara. Tapi akan dikembangkan juga di Kecamatan Tamako,” ujarnya.

Selain tomat dan cabe, instansi yang dipimpinnya, Goldfried melanjutkan, juga fokus mengembangkan tanaman hortikutura maupun buah-buahan dan sayuran lainnya yang saat ini juga sudah mampu memenuhi pasaran lokal. Bahkan produk lokal lainnya, seperti singkong dan ubi jalar juga tak lepas dari sasaran dalam rangka menunjang program pemerintah daerah, yakni ‘two days no rice’, atau dua hari tidak makan nasi, diganti dengan pangan lokal, sagu, pisang, singkong maupun ubi jalar.

Untuk singkong dan ubi jalar sudah ada beberapa wilayah yang kita fokus untuk pengembangnannya. Pokoknya semua kebutuhan pangan lokal akan kita upayakan dari petani setempat, sehingga tidak ada lagi produk luar daerah yang masuk ke Sangihe,” terangnya. | VEBE

Leave a Reply