Siklon Tropis Masih Mengancam Wilayah-wilayah di Indonesia
Siklon tropis masih mengancam wilayah-wilayah di Indonesia. (Foto: BNPB/mongabay.co.id)

Siklon Tropis Masih Mengancam Wilayah-wilayah di Indonesia

Dampak dari bencana ini ada 49.512 jiwa mengungsi, kerusakan rumah 67.013 dan 4.351 fasilitas umum dan fasilitas sosial terdampak, mulai dari rusak berat, sedang hingga ringan.

Gubernur Provinsi NTT, Victor Bungtilu Laiskodat menetapkan status tanggap darurat bencana sejak 06 April-05 Mei 2021 melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 118/KEP/HK/2021.

Kepala Pusat data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati mengatakan, banjir bandang dampak siklon tropis seroja ini terparah dalam sepuluh tahun terakhir.

Sebelumnya, banjir yang menyebabkan korban jiwa dan infrastruktur maupun rumah rusak, pada 03 November 2010. Bencana ini mengakbatkan 31 orang meninggal dunia, tujuh hilang, 27 luka-luka dan 159 rumah rusak. Kemudian pada 11 April 2011, sekitar 3.277 rumah terdampak banjir dan 14 fasilitas umum rusak.

Siklon tropis merupakan badai dengan kecepatan angin di atas 63 km/jam dan radius rata-rata 150-200 km. Karakteristik ini menimbulkan cuaca ekstrem hingga bencana hidrometeorologi. La-Nina membuat potensi kejadian siklon tropis menjadi makin rentan dan panjang dibandingkan masa-masa normal. Siklon tropis ini terbentuk di atas lautan luas yang memiliki suhu permukaan air lebih dari 26,5 derajat Celcius. Kekuatannya, berkisar antara 3-18 hari, makin lama makin melemah hingga punah ketika bergerak menuju perairan dengan suhu dingin atau daratan.

Dari data BMKG, siklon tropis terjadi rutin sejak 2017. Nama siklon tropis ini ditetapkan BMKG dengan nama bunga dan buah-buahan. Pada 2008, terjadi siklon tropis Durga selama empat hari di perairan bara daya Bengkulu. Kemudian 2010, ada siklon tropis Anggrek dengan kecepatan 110 km/jam dan tahun 2014 terjadi siklon tropis Bakung dengan kecepatan 75 km/jam.

“Pada 2017, dalam satu pekan bisa terjadi dua kali siklon tropis, siklon tropis Cempaka pada 26-29 November dan Dahlia pada 27 November-2 Desember,” kata Dwikorita.

Padahal, katanya, wilayah geografis Indonesia di garis khatulistiwa, seharusnya tidak menjadi perlintasan siklon tropis. Meski badai seringkali terjadi di perairan sekitar Indonesia, baik di utara atau selatan khatulistiwa.

Waspada

Kembali BMKG mengingatkan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, waspada siklon tropis Surigae yang dapat berkembang menjadi badai topan.

Siklon tropis ini adalah hasil perkembangan bibit siklon tropis 94W yang mulai tumbuh di Samudera Pasifik sebelah utara Papua. “Dalam perhitungan kami, potensi tumbuh menjadi siklon tropis dalam beberapa hari ke depan sangat tinggi,” kata Dwikorita.

Tinggalkan Balasan