Barang bukti (babuk) yang berhasil disita Tim Opsnal Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut) saat menangkap sejumlah tersangka kasus peredaran bahan berbahaya jenis mercuri diberbagai daerah di Sulut.
Barang bukti (babuk) yang berhasil disita Tim Opsnal Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut) saat menangkap sejumlah tersangka kasus peredaran bahan berbahaya jenis mercuri diberbagai daerah di Sulut.

Sindikat Peredaran Mercuri Dibongkar Polda

KRIMINALITAS

MANADO, publikreport.com – Peredaran bahan berbahaya jenis mercuri berhasil dibongkar Tim Opsnal Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut). Sejumlah tersangka yang disinyalir merupakan anggota sindikat berhasil diringkus beserta barang bukti (babuk). Pengungkapan sindikat ini bermula ketika polisi mendapat informasi tentang adanya peredaran bahan berbahaya jenis mercuri yang diproduksi secara ilegal di salah satu wilayah di Maluku.

Bahan berbahaya tersebut diselundupkan melalui jalur laut, yang masuk lewat beberapa pelabuhan, di antaranya Pelabuhan Bitung dan Manado, serta beberapa pelabuhan rakyat di Sulut. Mercuri kemudian dijual oleh kurir kepada para pelaku usaha yang tidak memiliki izin penjualan bahan berbahaya tersebut, di wilayah Sulut, Gorontalo, Palu hingga Makassar.

Hal ini disampaikan Direktur Resnarkoba Polda Sulut, Komisaris Besar (Kombes) Eko Wagiyanto, Kamis 11 Juli 2019.

Tim awalnya menangkap seorang perempuan berinisial NK di ruas Jalan Santiago III, Tuminting, Manado pada Senin 24 Juni 2019, siang. Perempuan ini diduga kuat mengecer mercuri,” jelasnya.

Setelah penangkapan, Eko mengatakan, tim kemudian melakukan penggeledahan di rumah NK yang berada dibilangan Tuminting. Dari penggeledahan ini didapati barang bukti berupa 38 botol mercuri, 1 lembar stok asli penjualan mercuri, 1 kartu ATM (Automatic Teller Machine/Anjungan Tunai Mandiri), 1 buku tabungan dan 1 handphone (Hp).

NK mengaku mendapatkan mercuri dari SW dan MR, dengan harga Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per botol. NK kemudian menjual kembali kepada para pembeli yang bergerak di pertambangan rakyat, di wilayah Sangihe, Minahasa Utara (Minut), Minahasa Selatan (Minsel) dan Bolaang Mongondow (Bolmong) dengan harga Rp1.250.000 hingga Rp. 1.400.000 per botol,” ungkapnya.

Kasus dikembangkan dan pada Jumat 28 Juni 2019 di Tuminting, Eko mengatakan, tim berhasil mengamankan SW. SW ditangkap saat akan mengantar mercuri ke rumah NK. Dari tangan SW, disita 14 botol mercuri. SW mengaku sudah menjalani bisnis terlarang ini selama dua tahun, dan mendapatkan pasokan dari pria berinisial D, warga Halmahera Selatan (masih dalam pencarian). Pada hari yang sama, tim juga mengamankan MR, di Gorontalo.

Di rumah MR, di wilayah Bolmong Timur, tim mendapati barang bukti 11 botol mercuri. MR mengaku sejak 2018 mendapat pasokan dari pria berinisila R, warga Halmahera Selatan, kemudian dititipkan kepada NK untuk dijual kembali.

Leave a Reply