Deputi Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden RI, Bey Machmudin menyampaikan keterangan pers di kawasan Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 21 Oktober 2019.
Deputi Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden RI, Bey Machmudin menyampaikan keterangan pers di kawasan Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 21 Oktober 2019.

Susun Kabinet, Presiden Dibantu 7 Orang

JAKARTA, publikreport.com – Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin mengungkapkan, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) telah membentuk tim yang beranggotakan tujuh orang untuk membantunya menyusun kabinet yang akan diumumkannya secara langsung pada Rabu 23 Oktober 2019, hari ini. Ketujuh orang itu adalah Pratikno, Pramono Anung, Retno Marsudi, Moeldoko, Ari Dwipayana, Sukardi Rinakit, dan Alex Lay.

Ketujuh orang itu, menurut Bey, diberi tugas khusus oleh Jokowi untuk membantu selama belum ada kabinet terbentuk. Karena itu, kalau kemarin ada yang bertanya Pratikno dalam kapasitas apa ada di lingkungan istana, Bey mengatakan, karena sudah diberi tugas khusus oleh Presiden.

Hanya diberi tugas, tidak ada kriteria khusus, cuma diberi tugas langsung oleh Presiden untuk membantu Presiden selama penyusunan kabinet ini,” tegasnya.

Fadjroel Ramhan, Bey mengungkapkan, dipanggil Presiden sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi dengan merangkap sebagai Juru Bicara (Jubir) Presiden.

Keputusan Presiden (Keppres) penugasan per tanggal 21 Oktober 2019,” jelas Bey.

Fadjroel sendiri pada Senin 21 Oktober 2019, mengaku ada penugasan khusus yang diberikan oleh Presiden berdasarkan Surat Keputusan Presiden sebagai Staf Khusus Presiden di Bidang Komunikasi dengan pembidangan sebagai Juru Bicara Presiden.

Jadi artinya apa yang sudah saya sampaikan kemarin bahwa teman-teman semua lah yang menjadi mitra kerja saya ternyata terbukti dengan surat yang sudah ditandatangani oleh Presiden tersebut per 21 Oktober berarti per kemarin, jadi sebenarnya kemarin itu sudah dibuatkan. Jadi pertemuan saya dengan Pak Jokowi adalah penugasan khusus,” jelasnya.

Tahun 2015, lalu, Fadjroel mengatakan, sebenarnya sudah ada penugasan khusus dari Presiden Jokowi sebagai komisaris utama di Adhi Karya, untuk menjalankan program infrastruktur yang dijalankan melalui kontraktor karya yaitu BUMN. “Jadi ini sebenarnya penugasan khusus kedua dari Presiden kepada saya yaitu menjadi Juru Bicara Presiden,” ucapnya.

Dengan jabatan barunya sebagai Staf Khusus Presiden, menurut Fadjroel, dirinya tidak perlu mundur sebagai Komisaris Utama Adhi Karya. “Tidak ada, tetap bisa dijalankan ternyata secara hukum. Jadi tidak tidak ada masalah, kalau jadi Menteri baru saya harus meninggalkan. Ya merangkap jabatan,” katanya. | VERONICA DSK

Leave a Reply