PUBLIKREPORT.com

Tanda Alam yang Dipercayai Akan Berakhirnya Covid-19

Penyakit putih tanaman yang mulai menghilang, seperti pada daun pepaya ini, menurut sejumlah tua-tua tanah Minahasa, pertanda akan menghilangnya Covid-19.

Penyakit putih tanaman yang mulai menghilang, seperti pada daun pepaya ini, menurut sejumlah tua-tua tanah Minahasa, pertanda akan menghilangnya Covid-19.

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: https://publikreport.com

Ya, betul. Kita juga percaya kalau Corona akan hilang seiring dengan tanda alam ini. Soal yang putih-putih di tanaman, itu kita sudah tahu sejak kecil. Kebetulan di kebun banyak pepaya yang buahnya rusak karena adanya serbuk putih yang menempel. Tapi buah yang baru sekarang sudah tidak lagi terkena”

MINAHASA, publikreport.com – Covid-19 (Coronavirus Disease 9) sudah menghantui masyarakat dunia sepanjang tahun 2020 ini. Pandemi seperti belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Kondisi ini mulai memberikan tekanan fisik dan psikologi disemua lapisan masyarakat, termasuk generasi tua yang telah melewati berbagai macam situasi dan kondisi disaat ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum semaju saat ini.

Menariknya, beberapa orang dari kelompok manusia sarat pengalaman hidup ini mengemukakan pengamatan mereka yang sangat menggembirakan. Awalnya publikreport.com dikagetkan dengan topik perbincangan Anggelina Moningka (83) bersama sejumlah warga di Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), pekan lalu. Kepada sejumlah warga, Anggelina yang akrab disapa Oma Lin mengatakan, wabah Virus Corona bakal segera berakhir seiring dengan menghilangnya salah satu jenis penyakit tanaman yang telah menyerang beberapa jenis tanaman sepanjang tahun 2020 ini.

Penyakit tanaman seperti serbuk putih-putih yang menyerang pepaya ini, dan juga beberapa jenis tumbuhan lainnya banyak kali datang bersamaan dengan penyakit massal (wabah). Jenis ini sudah menyerang tanaman sejak bulan Januari lalu, dan sekarang sudah hampir menghilang semua. Kita yakin, Virus Corona sudah akan menghilang oleh tanda ini,” kata Oma Lin seraya menunjuk daun pepaya dan ketimun jepang yang mulai bersih dari penyakit serbuk putih dimaksud.

Tokoh budaya Minahasa ini menjelaskan, bahwa pendapatnya ini berdasarkan pengalaman panjang dari para leluhur di tanah Minahasa yang secara turun-temurun menyampaikannya pada generasi dibawah mereka termasuk dirinya.

Ini saya dengar pada orang tua yang sudah banyak menyaksikan kejadian sepert ini,” ujar Oma Lin.

Penasaran, wartawan publikreport.com kemudian menghubungi sejumlah generasi tua di daerah lain di tanah Minahasa untuk memperoleh penguatan terkait fenomena alam yang menarik ini.

Memang ada tanda-tanda tertentu dari penyakit tumbuhan yang sering bersamaan dengan adanya penyakit manusia. Kalau disini ada penyakit gatal kulit yang sekalian menyerang manusia bersamaan dengan busuk tanaman jagung. Tapi dijaman sekarang ini, ini sudah kurang disadari orang, karena sudah banyak obat anti elergi,” kata Wellem Lentey (79), warga Desa Sawangan, Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Pria yang masih aktif berkebun ini membenarkan soal fenomena penyakit tanaman serbuk putih.

Ya, betul. Kita juga percaya kalau Corona akan hilang seiring dengan tanda alam ini. Soal yang putih-putih di tanaman, itu kita sudah tahu sejak kecil. Kebetulan di kebun banyak pepaya yang buahnya rusak karena adanya serbuk putih yang menempel. Tapi buah yang baru sekarang sudah tidak lagi terkena,” ungkapnya.

Hal sama disampaikan, Oddy Mawikere (72), warga Desa Ranotongkor, Kecamatan Tombariri Timur, Kabupaten Minahasa.

Tapi ini tidak terkait takhyul, karena tanda-tanda alam adalah kejadian yang diperhatikan berulang kali oleh tua-tua masa lalu yang belum terbantu dengan teknologi seperti sekarang. Firasat saya juga berkata, bahwa Corona akan segera hilang seiring dengan tanda ini,” tegasnya.

Penyakit putih tanaman yang mulai menghilang, seperti pada daun pepaya ini, menurut sejumlah tua-tua tanah Minahasa, pertanda akan menghilangnya Covid-19.
 Penyakit putih tanaman yang mulai menghilang, seperti pada daun pepaya ini, menurut sejumlah tua-tua tanah Minahasa, pertanda akan menghilangnya Covid-19.

Untuk menguatkan fenomena alam sebagai rujukan generasi masa lalu yang kemudian menjadi kearifan lokal, Oddy mencontohkan momen petani untuk menanam yaitu disaat bulan tidak ada di siang hari.

Tanaman akan sangat buruk jika ditanam ketika bulan ada di siang hari. Ini momen yang diamati oleh orang tua masa lalu yang kemudian diikuti oleh pihak pertanian,” ujanya.

Karena itu, Oddy melanjutkan, masa menanam yang sangat baik adalah setelah ‘Timukeh’ (bulan purnama penuh/saat matahari terbenam pada jam 6 sore (pukul 18.00), bersamaan dengan munculnya bulan di ufuk Timur).

Besoknya setelah Timukeh adalah masa tepat menanam karena seharian penuh bulan tidak keluar di siang hari. Sehari sebelum purnama. itu disebut Mawulelen. Juga perlu diperhatikan sebutan Timukeh Repow atau Oras Pagi (bulan ada di langit pada setengah hari pagi) dan Timukeh Wuaya (bulan di langit pada setengah hari siang-sore),” jelas Oddy sambil mengingatkan kembali bahwa generasi masa kini jangan sekali-kali mengabaikan tanda alam yang ditemukan oleh para generasi masa lalu. JOPPY JW

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Eksistensi Budaya Mapalus Ditengah Amukan Covid-19

Read Next

Covid-19 Menguji Kapasitas dan Integritas Pemimpin Gereja