Sampah di lokasi dekat penjualan cabo di Pasar Wilken Tomohon.
Sampah di lokasi dekat penjualan cabo di Pasar Wilken Tomohon.

Warga dan Pedagang Ungkap Kejanggalan di Pasar Tomohon

TOMOHON, PUBLIKREPORTcom – Manajemen Pasar Tradisional Wilken Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) kembali disorot masyarakat dan pedagang. Warga melihat ada sejumlah kejanggalan yang terjadi di pasar tradisional itu.

“Pedagang Pasar Tomohon banyak bilang ada penarikan bea harian di hari minggu. Sepengetahuan kita, pada hari libur tidak ada penarikan bea pada para pedagang,” kata Johny Manopo, Senin 08 Maret 2021.

Bukan hanya itu, Johnly melanjutkan, pihaknya mendapati beberapa kejanggalan dalam penyewaan tempat berdagang.

“Luar bangunan bagian timur lapak cabo, ternyata masih disewakan pada para pedagang. Padahal yang di luar bangunan itu tidak lagi termasuk disewakan. Ada 14 petak disitu,” ungkapnya.

Temuan lain dikemukakan Detty Karamoy.

“Pinggir pasar cabo so jadi tempat sampah. Kalau hujan, pedagang yang sudah bayar kalang kabut karena air menembus ditalang yang tidak mau diperbaiki oleh manajemen PD (Perusahaan Daerah) Pasar,” ungkap Detty yang mengaku warga Kelurahan Woloan 1, Kecamatan Tomohon Barat.

Sejumlah pedagang di sekitar pasar cabo kepada wartawan mengatakan, di lokasi tempat mereka berdagang ada 120 petak. Agar bisa mengggunakan lapak harus memiliki SIM (Surat Ijin Menjual) dengan biaya Rp600 ribu per tahun. Dan bea setiap hari Rp10 ribu per petak.

“Setiap hari ditagih termasuk hari minggu atau hari raya,” kata Abdulrahman.

“Tapi lihat sendiri kondisinya. Hujan keras kebanjiran. Talang bocor karena cuma plat seng. Tidak pernah diperbaiki oleh mereka. Disini juga jadi tempat sampah,” tambah Abdulrahman.

Pedagang lainnya, Swartini Lahai membenarkan jika lokasi diluar bangunan lapak pakaian cabo tetap dibayar oleh pedagang.

“Ya, ini ada SIM. Tapi penjual sendiri yang membuatnya. Memang sudah diluar bangunan utama ini,” ujar Swartini yang mengaku sebelumnya dirinya berdagang di Pasar Karombasan Manado.

Salah satu rekan Swartini, yang meminta agar namanya jangan ditulis mengungkapkan, petak yang diluar los itu, SIM-nya ada yang dibayar jauh lebih besar dibanding normalnya Rp600 ribu.

“Kemungkinan besar itu tidak masuk ke Kantor PD Pasar. Belum lagi uang keamanan Rp3 ribu per pedagang tiap hari. Ratusan juta yang pasti tak tembus ke Kas PD Pasar,” bebernya. “

Pedagang lainnya, Adri Ngantung mengatakan, hanya saja, soal penarikan bea pada hari Minggu/Raya sepertinya ada perbedaan.

“Kalau hari Minggu atau hari Raya kami dilapak makanan ini tidak ada pengutan bea harian. Mungkin juga ada pengecualian ya,” katanya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Wilken Tomohon, Enos Pontororing saat hendak dikonfirmasi tidak berada di kantornya. Dihubungi lewat telepon yang bersangkutan tidak mengangkatnya. | JOPPY JW

Leave a Reply